Syaikh Ahmad khotib Syambas Sang pendiri Thoriqoh Qodiriyah wa Naqsyabandiyah
- wwwnuresia
- 20 Feb
- 3 menit membaca
Diperbarui: 25 Feb
Syaikh Ahmad Khotib Syambas Sang pendiri Thoriqoh Qodiriyah wa Naqsyabandiyah.
Syaikh Ahmad Khotib Syambas dilahirkan di daerah Kampung Asam, Sambas, Kalimantan Barat. Tanggal lahirnya tidak diketahui, tapi sebagian sumber menyebutkan pada bulan shafar 1217 H bertepatan dengan tahun 1803 M. Ayahnya Abdul Ghaffar bin Abdullah bin Muhammad bin Jalaluddin.
Masa kecil, Ahmad khotib Syambas diasuh pamannya yang terkenal sangat alim dan wara’ di wilayah tersebut. Ahmad Khotib Syambas menghabiskan masa remajanya untuk mempelajari ilmu-ilmu agama, ia berguru dari satu guru-ke guru lainnya di wilayah kesultanan Sambas. Salah satu gurunya yang terkenal di wilayah tersebut adalah, H. Nuruddin Musthafa, Imam Masjid Jami’ Kesultanan Sambas.
Kemudian ia meneruskan pendidikannya ke Makkah. Kemudian memutuskan untuk menetap di Makkah sampai wafat pada tahun 1875 M. Di sana ia berguru di antaranya kepada Syaikh Daud bin Abdullah Al-Fathani yang dikenal sebagai guru besar Thoriqoh Syathoriyah.
Kemudian ia berguru juga kepada Syaikh Syamsuddin, guru besar Thoriqoh Qodiriyah. Sedangkan kepada Syaikh Sulaiman Effendi, guru besar Thoriqoh Naqsyabandiyah yang berpusat di Jabal Abu Qubais.
Selain yang disebutkan di atas, terdapat juga sejumlah nama yang juga menjadi guru-guru Khotib Syambas, seperti Syaikh Muhammad Salih Rays, seorang mufti bermadzhab Syafi’i, Syaikh Umar bin Abd al-Rasul al-Attar, juga mufti bermadzhab Syafi’I (w. 1249 H/833/4 M), dan Syaikh ‘Abd al-Hafiz ‘Ajami (w. 1235 H/1819/20 M).
Ia juga menghadiri pelajaran yang diberikan oleh Syaikh Bisri al-Jabarti, Sayyid Ahmad Marzuki, seorang mufti bermadzhab Maliki, Abd Allah (Ibnu Muhammad) al-Mirghani (w 1273 H/1856/7 M), seorang mufti bermadzhab Hanafi serta Usman ibn Hasan al-Dimyati (w 1849 M).
Dalam bidang tarekat, ia menggabungkan kedua Thoriqoh yang didapat dari gurunya yang mengajarkan Qodiriyah dan Naqsyabandiyah. Kemudian dikenal dengan Tarekat Qodiriyah wa Naqsyabandiyah (TQN).
Semasa hidupnya, Syaikh Ahmad Khotib Syambas mengangkat banyak khalifah (wakil), namun posisi pewaris utamanya setelah beliau meninggal dipegang oleh Syekh Abdul Karim Banten. wakil penting lainnya adalah Syaikh Muhammad Garut atau dikenal dengan Syaikh Muhammad Jabal Qubais,Syaikh Tholhah Kalisapu Cirebon dan Syaikh Ahmad Hasbullah Ibn Muhammad Madura. Dll.
Pada awalnya semuanya mengakui otoritas Syaikh Abdul Karim, namun setelah Syaikh Abdul Karim meninggal, tidak ada lagi kepemimpinan pusat, dan karenanya TQN menjadi terbagi dengan otoritas sendiri-sendiri.
Syaikh Muhammad Garut mengembangkan kemursyidan sendiri di Jabal Qubais Makkah, penerusnya, salah satunya adalah Syaikh Hasan Bisri bin Thohir Garut, berlanjut kepada salah seorang murid sekaligus anak asuhnya, yaitu Syaikh Abbas bin Afandi Al Ilyasa Garut, berlanjut kepada salah seorang murid beliau, yaitu Kiyai Muhammad Hidayat bin Sukandi Sumedang, dan berlanjut kepada salah seorang murid pertamanya, yaitu Kiyai Muhammad Nur Al-Achadiyyatillah Asy-Syumathroni, yang bermukim di sungai Bengkal Jambi.
Syaikh Tholhah mengembangkan kemursyidan sendiri di Jawa Barat. Penerusnya adalah murid sekaligus putranya yaitu Syaikh Zainal Abidin bin Tholhah, berlanjut kepada salah seorang murid sekaligus putranya yaitu Syaikh Abdulloh Qosim bin Zainal Abidin Astana gunung jati Cirebon.
Penerus lainnya adalah Syaikh Abdullah Mubarrok Ibn Nur Muhammad atau “Abah Sepuh” dari Suryalaya (Tasikmalaya) yang dilanjutkan putranya yaitu Syaikh Ahmad Shohibul Wafa’ Taj Al-Arifin yang dikenal Abah Anom.
Sementara penerus Syaikh Abdul Karim Banten berlanjut kepada:
~ Syaikh Asnawi Banten Jawa Barat , sampai kepada KH Tubagus Abdullah Falak atau yang dikenal Abah Falak di daerah Pagentongan, Bogor.
~ Syaikh Ibrohim Brumbung sampai kepada KH Muslih Abdurrahman (Mbah Muslih),
~ Syaikh Zarkasi Purworejo, sampai KH chalwani Nawawi berjan Purworejo.
Sedangkan di Jawa Timur TQN berkembang pesat di Rejoso Jombang, melalui jalur Syaikh Ahmad Hasbullah Madura, terutama di pesantren yang didirikan KH Romli Tamim, dan kemudian diteruskan KH Musta’in Romly yang sempat menjadi Ketua Jam’iyyah Ahli Thoriqoh al-Mu’tabaroh al-Nahdliyyah (JATMAN).
Ia juga dikenal sebagai cendekiawan ulung terutama di bidang ilmu agama, seperti Qur’an, hadits, fiqih, kalam, dan, tentu saja, tasawuf. Ia tidak meninggalkan banyak karya tulis. Cuma satu kitab yang disandarkan kepadanya Fathul Arifin. Kitab tersebut didiktekan dan ditulis oleh salah seorang muridnya, Muhammad Ismail bin Abdurrahim Al-Bali. Kitab yang yang selesai ditulis 1872 tersebut berisi ajaran dalam TQN
Team Nuresia net








Komentar