Syeikh Muhammad Garut: Penyebar Thoriqoh Qodiriyyah wa Naqsyabandiyyah di Indonesia
- wwwnuresia
- 7 Feb
- 2 menit membaca
Diperbarui: 24 Feb
Jejak Sejarah Syeikh Muhammad Garut

Syaikh Muhammad Garut, atau dikenal juga sebagai Muhammad Jabal Qubais, adalah salah satu murid Syaikh Ahmad Khotib Sambas. Beliau berperan penting dalam menyebarkan thoriqoh Qodiriyyah wa Naqsyabandiyyah di Indonesia. Jejak sejarah Syaikh Muhammad Garut dapat ditemukan dalam buku Snouck yang berjudul “Mekka” yang diterbitkan pada tahun 1888.
Syaikh Muhammad Garut adalah putra dari Ajengan Hasan Basori Kiarakoneng, Suci, Garut. Dalam deskripsi Snouck, beliau digambarkan sebagai seorang ulama besar dari Sunda yang memiliki reputasi keilmuan yang tinggi. Syaikh Muhammad Garut juga dikenal sebagai penghubung penting antara ilmu pengetahuan di Makkah dan Sunda.
Pengajaran di Makkah
Syaikh Muhammad Garut mengajar di Masjidil Haram dan membuka kelas keilmuan Islam di rumahnya yang terletak di Jabal Abu Qubais, Makkah. Oleh karena itu, beliau dikenal di kalangan orang-orang Sunda di Makkah dengan julukan “Mama [Ajengan] Jabal”. Dalam beberapa sumber lain, beliau juga dikenal dengan sebutan “Ajengan Balong” atau “Ajengan Cibunut”, yang merujuk pada kampung dan pesantren asalnya di Balong, Cibunut, Garut.
Keluarga dan Murid-Muridnya
Syaikh Muhammad Garut memiliki beberapa anak yang lahir di Makkah. Di antara mereka adalah:
Syaikh Salim b. Muhammad Garut
Syaikh Abdullah Manshur b. Muhammad Garut
Syaikh Ahmad b. Muhammad Garut
Syaikhah Khadijah bt. Muhammad Garut
Syaikh Siraj b. Muhammad Garut
Salah satu murid beliau yang terkenal adalah Syaikh Hasan Bisri bin Thohir Garut. Syaikh Hasan adalah salah satu ulama dari Garut, Jawa Barat, yang juga menyebarkan thoriqoh Qodiriyyah wa Naqsyabandiyyah, khususnya di daerah Garut dan sekitarnya.
Penyebaran Thoriqoh di Indonesia
Dari Syaikh Hasan Bisri bin Thohir, penyebaran thoriqoh ini diteruskan kepada muridnya, Syaikh Abbas bin Afandi Garut. Selanjutnya, ajaran ini disebarkan melalui menantu beliau, Kiyai Edi Hidayat. Penyebaran thoriqoh ini bahkan mencapai Sumatera melalui murid Kiyai Edi, yaitu Kiyai Muhammad Nur Al-Achadiyyatillah, yang bermukim di Sungai Bengkal, Jambi.
Kontribusi Syaikh Muhammad Garut dalam Tasawuf
Syaikh Muhammad Garut tidak hanya dikenal sebagai pengajar, tetapi juga sebagai tokoh yang berkontribusi besar dalam pengembangan tasawuf di Indonesia. Melalui ajaran dan praktik thoriqoh Qodiriyyah wa Naqsyabandiyyah, beliau mengajarkan pentingnya spiritualitas dalam kehidupan sehari-hari.
Ajaran beliau menekankan pada pencarian kedekatan kepada Allah melalui berbagai praktik ibadah dan pengamalan ajaran Islam yang benar. Dalam konteks ini, thoriqoh menjadi sarana untuk mencapai tujuan spiritual yang lebih tinggi.
Relevansi Ajaran Syaikh Muhammad Garut
Ajaran Syaikh Muhammad Garut tetap relevan hingga saat ini. Banyak orang yang mencari pemahaman lebih dalam tentang tasawuf dan tarekat. Melalui ajaran beliau, mereka dapat menemukan jalan untuk memperdalam spiritualitas dan memahami makna kehidupan yang lebih dalam.
Dengan demikian, Syaikh Muhammad Garut bukan hanya seorang tokoh sejarah, tetapi juga seorang guru spiritual yang menginspirasi banyak orang.
Kesimpulan
Syaikh Muhammad Garut adalah sosok penting dalam sejarah penyebaran thoriqoh Qodiriyyah wa Naqsyabandiyyah di Indonesia. Melalui pengajaran dan dedikasinya, beliau telah meninggalkan warisan yang berharga bagi umat Islam. Ajaran dan praktik yang beliau sampaikan terus hidup dan memberikan inspirasi bagi generasi selanjutnya.
Dengan memahami sejarah dan ajaran Syaikh Muhammad Garut, kita dapat lebih menghargai kontribusinya dalam pengembangan spiritualitas Islam di Indonesia.






Komentar